Berdasarkan struktur teks novel sejarah cuplikan tersebut adalah bagian

KOMPAS.com – Novel seajarah adalah salah satu jenis novel yang populer karena menceritakan sejarah dengan sudut pandang juga cerita yang lebih menarik. Novel sejarah adalah novel yang ceritanya berisi suatu peristiwa sejarah.

Heru Marwata dalam jurnal Sejarah Novel Sejarah Indonesia: Komunikasi antara Dunia Sastra dengan Dunia Nyata (2008), menyatakan bahwa novel sejarah ditulis dengan menggunakan repetoar peristiwa historis yang leluasa sehingga dapat mengekspresikan peristiwa tersebut secara gamblang.

Novel sejarah ditulis berdasarkan fakta-fakta peristiwa sejarah dengan alur yang sesuai dengan kronologis peristiwa sejarah. Novel sejarah juga dapat leluasa membawa semangat zaman yang merupakan bagian dari sejarah pada pembacanya.

Struktur novel sejarah

Struktur novel sejarah terdiri dari:

  1. Orientasi
  2. Pengungkapan peristiwa
  3. Konflik
  4. Puncak konflik
  5. Resolusi
  6. Koda

Baca juga: Contoh Teks Ulasan Novel dan Strukturnya

Berikut penjelasan dari struktur novel sejarah:

Orientasi adalah bagian paling awal dalam struktur penulisan novel sejarah. Orientasi menceritakan pengenalan awal suatu noel baik latar tempat, waktu, sudut pandang, pengenalan para tokoh, hubungan para tokoh, juga awal kejadian yang akan diceritakan dalam novel.

Jika orientasi adalah bagian awal dari novel sejarah, maka pengungkapan peristiwa adalah transisi antara awal dan inti cerita dalam novel sejarah. Pengungkapan peristiwa menceritakan kejadian awal atau kemunculan suatu kejadian yang akan menghasilkan suatu konflik.

Biasanya dalam pengungkapan peristiwa diceritakan penokohan, kejadian yang menjadi sebab suatu konflik, kesulitan yang dialami tokoh utama, dan latar belakang terjadinya suatu masalah.

Konflik menjadi struktur novel sejarah berikutnya. Adrean dalam jurnal Analisis Konflik Tokoh Utama dalam Novel Terusir Karya Hamka Menggunakan Kajian Psikologi Sastra (2017) menyebutkan bahwa konflik adalah suatu permasalahan yang dialami oleh manusia dan sebenarnya tida diinginkan karena dapat merugikan diri sendiri.

Konflik merupakan bagian novel sejarah yang menceritakan inti masalah atau inti cerita yang melatarbelakangi mengapa suatu novel dibuat. Dalam konflik terjadi permasalahan, kesukaran, kesulitan, dan juga pertikaian yang dialami tokoh dalam suatu novel.

Baca juga: Contoh Analisis Unsur Intrinsik dan Kaidah Kebahasaan Novel

Puncak konflik atau klimaks adalah bagian puncak dari permasalah inti novel sejarah. Puncak konflik adalah bagian yang paling menegangkan yang berisikan puncak dari konflik, apakah tokoh bisa berhasil dalam menyelesaikan permasalahan atau tidak.

Penyelesaian adalah akhir dari suatu permasalahan. Penyelesaian berisikan penjelasan penyelesaian masalah, pandangan tokoh terhadap penyelesaian masalah tersebut, efek yang ditimbulkan dari penyelesaian masalah, dan nasib yang dialami tokoh-tokoh setelahnya.

Kode merupakan struktur novel sejarah yang paling terakhir. Koda berfungsi sebagai penutup novel yang kerap kali berisikan kesimpulan cerita, cerita buku selanjutnya, pertanyaan yang masih menggantung, amanat yang bisa diambil, dan segala hal yang menutup novel dengan baik.

Taufik Abdullah dalam Sastra dan Ilmu Sejarah di Indonesia (1976) menyebutkan bahwa karya sastra memiliki dua fungsi yaitu memberikan kemampuan pencitraan yang tinggi dan keunggulan dalam keterangan-peristiwa.

Sehingga koda biasanya tidak mengandung kesimpulan. Karena penulis novel berharap pembaca dapat mengambil kesimpulannya sendiri dari keseluruhan novel yang dibacanya sesuai dengan tujuan karyanya dibuat.

 Baca juga: Contoh Kerangka Novel Sejarah

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sebutkan dan jelaskan struktur teks cerita sejarah

Pembahasan

Pengertian teks cerita

Teks cerita sejarah adalah sebuah teks yang di dalamnya menceritakan/menjelaskan suatu fakta dan peristiwa yang terjadi di masa lalu yang menjadi latar belakang (asal muasal) terjadinya sesuatu yang mana kejadian tersebut memiliki nilai sejarah.

Struktur Teks Cerita Sejarah

  1. Orientasi, merupakan bagian pengenalan atau pembuka dari teks cerita sejarah.
  2. Urutan Peristiwa, merupakan rekaman peristiwa sejarah yang terjadi, yang biasanya disampaikan dalam urutan kronologis.
  3. Reorientasi, berisi komentar pribadi penulis tentang peristiwa atau kejadian sejarah yang diceritakan. Bagian ini merupakan tahapan yang bersifat pilihan, artinya boleh saja bagian ini tidak disajikan oleh penulis teks cerita sejarah.

Ciri – Ciri Teks Cerita Sejarah

  • Disajikan secara kronologis atau urutan peristiwa atau urutan kejadian.
  • Bentuk teks cerita ulang (recount)
  • Struktur teksnya: orientasi, urutan peristiwa, reorientasi.
  • Sering menggunakan konjungsi temporal.
  • Isi berupa fakta.

Kaidah Kebahasaan Teks Cerita Sejarah

  • Pronomina (kata ganti): jenis kata yang menggantikan nomina atau frasa nomina. Contohnya adalah saya, kapan, -nya, ini.
  • Frasa Adverbial: kata yang menunjukan kejadian atau peristiwa, waktu, dan tempat.
  • Verba Material: kata kerja berimbuhan yang mengacu pada tindakan fisik, atau pun perbuatan yang dilakukan secara fisik oleh partisipan, contohnya menulis, mengepel, menyapu. 
  • -   Konjungsi Temporal (kata sambung waktu): berfungsi menata urutan peristiwa yang diceritakan. Umumnya banyak menggunakan kata penghubung temporal.

---------------------------------------------------------

Pelajari lebih lanjut

Detil Jawaban

  • Kelas        : 12 SMA
  • Mapel       : B. Indonesia
  • Materi       : Bab 2 - Teks Cerita Sejarah
  • Kode         : 12.1.2
  • Kata kunci : teks cerita sejarah, jelaskan, sebutkan struktur

Semoga bermanfaat

  • ANJ GUA REMIDI BHS INDO G PHM,KLO GA DI KERJAIN TETEP DI WA GURU TRS ARGHHH BGSTTT CAPE BETT

Struktur Teks Cerita Sejarah – Grameds pasti pernah membaca suatu cerita yang membahas mengenai asal-usul dari suatu benda atau suatu tempat? Nah, apabila pernah, cerita tersebut dapat disebut sebagai teks cerita sejarah lho… Hal tersebut karena dalam cerita tersebut, secara langsung menceritakan mengenai sejarah terbentuk atau terjadinya suatu hal.

Apalagi jika Grameds adalah pelajar SMA, pastilah tidak asing dengan adanya materi struktur teks cerita sejarah, sebab materi ini secara gamblang masuk ke dalam Kompetensi Dasar SMA. Nah, dalam Kompetensi Dasar tersebut, biasanya akan terdapat materi tentang penulisan teks cerita sejarah.

Secara umum, teks cerita sejarah adalah teks yang berisikan cerita mengenai fakta dan kejadian di masa lampau yang melatarbelakangi terjadinya suatu peristiwa serta memiliki nilai sejarah. Dalam teks sejarah ini disajikan dalam bentuk narasi.

Nah, sebelum Grameds dapat menuliskan teks cerita sejarah, tentu saja harus memahami terlebih dahulu strukturnya supaya hasilnya menjadi lebih maksimal. Lalu, bagaimana struktur teks cerita sejarah itu? Apakah sama saja dengan struktur teks deskripsi atau teks eksplanasi?

Supaya Grameds dapat memahami hal tersebut, yuk simak ulasan berikut ini!

https://pixabay.com/

Bagaimana Struktur Teks Cerita Sejarah?

Semua teks yang menjadi pokok materi mata pelajaran Bahasa Indonesia, pastilah memiliki struktur tersendiri, tak terkecuali dengan teks cerita sejarah. Meskipun dalam konsep teks cerita sejarah itu memiliki dua jenis yakni novel sejarah dan teks sejarah itu sendiri, tetapi keduanya memiliki struktur yang berbeda.

Nah, berikut adalah struktur dari teks cerita sejarah.

1. Orientasi

Struktur teks cerita sejarah yang pertama adalah bagian Orientasi. Pada bagian ini berisikan tentang pengenalan atau pembukaan dari teks cerita sejarah. Biasanya pengenalan tersebut berupa penjelasan singkat dari suatu peristiwa yang hendak diceritakan, sehingga menggunakan jenis kalimat deskriptif.

Contoh: Candi Borobudur adalah candi peninggalan dari agama Buddha yang terbesar di dunia. Bangunan candi ini dibangun pada masa Raja Samaratungga dari Wangsa Syailendra sekitar pada 824 Masehi.

Struktur kedua dari teks cerita sejarah adalah insiden atau urutan kejadian. Dalam bagian ini berisikan rekaman peristiwa sejarah yang hendak disampaikan secara urut waktu, mulai dari awal kejadian hingga kejadian tersebut berakhir. Biasanya, bagian ini menjadi bagian pokok dari teks cerita sejarah sebab dituliskan secara mendetail supaya para pembaca dapat memahami tentang apa yang terjadi sebenarnya.

Contoh:

Monumen Buddha ini memiliki luas yaitu 123 x 123 m². Candi Borobudur memiliki sebanyak 504 patung Buddha, 72 stupa terawang, dan satu stupa induk. Candi Borobudur memiliki arsitektur peta yang menggambarkan kekentalan dari gaya arsitektur yang berasal dari India. UNESCO telah mengakui dan memakai kemegahan dari arsitektur Candi Borobudur sebagai satu di antara momen Budha terbesar di Indonesia dan juga di dunia. Dalam menyelesaikan pembangunan Candi Borobudur ini membutuhkan waktu sekitar 75 tahun, di bawah komando dari arsitek Gunadarma dengan 60.000 m³ batuan vulkanik yang diambil di Sungai Elo dan Progo, yang letaknya sekitar 2 km sebelah timur candi. Pada saat Candi Borobudur dibangun, sistem metrik belum dikenal dan satuan panjang yang digunakan untuk membuat candi ini adalah tala, yang dihitung dengan cara merentangkan ibu jari dan jari tengah atau pengukur panjang rambut dari dahi sampai dengan dasar dagu.

3. Reorientasi

Struktur ketiga dari teks cerita sejarah adalah reorientasi. Dalam bagian ini berisikan mengenai komentar pribadi dari si penulis mengenai kejadian yang telah dituliskan sebelumnya. Namun, dalam beberapa teks cerita sejarah, biasanya struktur bagian ini tidak diberikan, sehingga dapat disebut bahwa struktur bagian ini bersifat opsional.

Contoh:

Berdasarkan Prasasti Karangtengah dan Kahulunan, sejarawan J.G. de Casparis memperkirakan pendiri Candi Borobudur adalah Raja Mataram Kuno dari dinasti Syailendra bernama Samaratungga, ia membangun candi ini sekitar tahun 824 M.

Kaidah Kebahasaan Teks Cerita Sejarah

Setelah membahas mengenai struktur teks, pasti pembahasan selanjutnya adalah kaidah kebahasaan teks. Sebab, keduanya tidak dapat dipisahkan satu sama lain dan membentuk suatu kesatuan supaya penulis dapat menuliskan teks tersebut secara apik.

1. Penggunaan Kata Ganti Orang Ketiga

Ketika menuliskan teks cerita sejarah, penulis nantinya akan memposisikan diri seolah dirinya berada di luar cerita sehingga mengisahkan orang lain dalam cerita tersebut. Kebanyakan dalam teks cerita sejarah, penulis akan menggunakan kata ganti orang ketiga berupa nama tokoh.

2. Penggunaan Keterangan Waktu Masa Lampau

Penggunaan keterangan waktu yang menunjukkan masa lampau biasanya berupa “Pada zaman dahulu”, “Pada tahun (menyebutkan tahun lampau)”, dan lain-lain. Hal ini supaya pembaca dapat memahami bahwa peristiwa yang dituliskan memang terjadi pada masa lampau.

3. Penggunaan Keterangan Tempat

Keterangan tempat yang digunakan dalam teks cerita sejarah biasanya akan menunjukkan lokasi asli dari peristiwa sejarah, ditandai dengan kata “di”, “dari”, dan “ke”.

Konjungsi temporal adalah kata hubung yang menandai waktu tertentu. Berdasarkan letaknya, konjungsi temporal dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu:

Yakni yang berada di dalam satu kalimat. Contohnya: “lalu”, “kemudian”, “setelah”, dan lain-lain.

Yakni yang berada di luar kalimat sehingga berfungsi untuk menghubungkan satu kalimat dengan kalimat lainnya. Contohnya: “Sebelumnya”, “Selanjutnya”, dan lain-lain.

5. Penggunaan Konjungsi Kausalitas (Sebab-Akibat)

Konjungsi kausalitas adalah kata hubung yang menunjukkan sebab akibat dari suatu peristiwa. Sama halnya dengan sebelumnya, konjungsi kausalitas ini juga dapat dibagi menjadi dua jenis berdasarkan letaknya, yakni:

Yakni konjungsi kausalitas berada di dalam satu kalimat. Contohnya: “karena”, “sebab”, dan lain-lain.

Yakni konjungsi kausalitas berada di luar kalimat sehingga menjadi penghubung antara kalimat satu dengan kalimat lain. Contoh “oleh sebab itu”, “oleh karena itu”, dan lain-lain.

6. Penggunaan Nomina

Nomina adalah kata benda, yang biasanya mengacu pada nama orang, hewan, benda, ataupun gagasan. Contoh: “Bulan Oktober”, “Raden Wijaya”, “Raja Sriwijaya”, “Tarumanegara”, “Tanah air”, dan lain-lain.

7. Penggunaan Verba

Verba adalah kata kerja yang menunjukkan tindakan atau kegiatan manusia. Penggunaan verba dalam penulisan teks cerita sejarah biasanya ditandai dengan imbuhan “me-”, “ter-”, “di-”, “kan-”, “ber-kan”, dan lain-lain.

Misalnya: “menyerahkan”, “menembak”, “dikawal”, dan lain-lain.

Jenis-Jenis Teks Cerita Sejarah

Sebelumnya, telah dijelaskan bahwa konsep dari teks cerita sejarah itu memiliki dua jenis, yakni novel sejarah dan teks cerita sejarah. Kedua jenis ini berkaitan erat dengan isi cerita yang ada di dalamnya, yaitu apakah bersifat fiktif atau tidak.

1. Novel Sejarah

Apabila kamu masih teringat dengan materi jenis-jenis prosa, pasti kamu tahu bahwa novel itu termasuk jenis prosa. Yap, begitu pula dengan novel sejarah yang pasti berisikan cerita fiksi, tetapi secara garis besar cerita yang disampaikan tersebut adalah bagian dari sejarah. Selain itu, dalam novel sejarah biasanya dituliskan dengan menggunakan banyak dialog.

Contoh buku termasuk dalam novel sejarah yang bersifat fiktif ini adalah novel, cerpen, legenda, dan roman. Novel sejarah yang paling banyak digandrungi adalah novel karya Pramoedya Ananta Toer.

2. Teks Sejarah

Apabila jenis sebelumnya adalah bersifat fiktif, maka jenis yang ini bersifat non fiktif. Teks sejarah justru biasa menceritakan mengenai perjalanan seorang tokoh atau sejarah dari suatu peristiwa. Contoh buku yang termasuk dalam teks sejarah yang bersifat non fiktif ini adalah biografi, autobiografi, catatan perjalanan, dan catatan sejarah.

Nilai-Nilai yang Termuat Dalam Teks Cerita Sejarah

Sebuah karya sastra pasti memuat nilai-nilai kehidupan yang disampaikan oleh penulis kepada pembaca melalui tulisannya. Sebelumnya, telah dijelaskan bahwa jenis dari teks cerita sejarah salah satunya adalah novel sejarah yang bersifat fiktif. Hal tersebut dapat disimpulkan bahwa novel sejarah juga termasuk karya sastra.

Nilai-nilai kehidupan yang termuat dalam teks cerita sejarah biasanya secara implisit (tidak dinyatakan secara terang-terangan) dalam alur, tokoh, latar, hingga tema. Selain itu, nilai-nilai kehidupan yang dimaksud adalah berkaitan dengan nilai agama, nilai budaya, nilai estetis, nilai moral, dan nilai sosial.

Nah, berikut adalah penjelasan mengenai nilai-nilai yang termuat dalam teks cerita sejarah.

1. Nilai Agama

Nilai agama adalah nilai-nilai yang ada di dalam karya sastra dan berkaitan dengan kehidupan beragama manusia. Agama apapun, tidak disebutkan secara spesifik.

Contoh kutipan teks cerita sejarah yang mengandung nilai agama:

Kala itu tahun 1309, segenap rakyat berkumpul di alun alun. Semua berdoa apa pun warna agamanya, apakah Siwa,Budhha maupun Hindu. Semua perhatian ditunjukkan dalam satu pandang, ke Purwakarta yang tak dijaga dengan ketat. Segenap prajurit bersikap sangat ramah kepada siapapun karena memang demikian sikap keseharian mereka. Lebih dari itu segenap panitia prajurit merasakan gejolak yang sama oleh duka yang mendalam atas sakit yang diderita Kertarajasa Jayawardhana

Nilai agama dalam kutipan teks diatas adalah aktivitas rakyat yang berasal dari semua kalangan bersama-sama mendoakan Kertarajasa Jayawardhana yang tengah sakit.

2. Nilai Budaya

Nilai budaya adalah nilai-nilai yang termuat dalam sebuah karya sastra dan berkaitan dengan kehidupan masyarakat, peradaban, maupun kebudayaannya.

Contoh kutipan teks cerita sejarah yang memuat nilai budaya:

Dan bila orang mendarat dari pelayaran, entah dari jauh entahlah dekat, ia akan berhenti di satu tempat beberapa puluh langkah dari dermaga. Ia akan mengangkat sembah dihadapannya berdiri sela baginda, sebuah tugu batu berpahat dengan prasasti peninggalan Sri Airlangga. Bila ia meneruskan langkahnya, semua saja jalanan yang dilaluinya, jalanan ekonomi sekaligus militer. Ia akan selalu berpapasan dengan pribumi yang berjalan tenang tanpa gegas, sekalipun di bawah matahari terik.

Nilai budaya dalam kutipan teks tersebut adalah mengenai nilai budaya timur yang mengajarkan untuk hidup tenang, tidak tergesa-gesa dalam menjalankan kehidupan. Selain itu, segala sesuatu akan selalu dihubungkan dengan kejadian alam dunia.

3. Nilai Estetis

Nilai estetis adalah nilai yang termuat pada teks cerita sejarah dan berkaitan dengan keindahan teknik yang digunakan oleh penulis dalam menyajikan ceritanya. Nilai estetis ini bersifat relatif, sehingga keindahan yang dilihat oleh satu orang dengan orang lain dapat berbeda.

4. Nilai Moral atau Nilai Etik

Nilai moral adalah nilai yang termuat dalam teks cerita sejarah dan berkaitan dengan ajaran mengenai akhlak budi pekerti manusia dalam kehidupan sehari-hari.

Contoh kutipan teks cerita sejarah yang memuat nilai moral atau nilai etik:

“…juga sang adipati Tuban Arya Tumenggung Wilwatikta tidak bebas dari ketentuan Maha Dewa. Sang Hyang Widhi merestui barangsiapa yang memiliki kebenaran dalam hatinya. Jangan kuatir, kepala desa! Kurang tepat jawabanku, kiranya? Ketakutan selalu menjadi bagian dari mereka yang tidak mau menegakkan keadilan. Kejahatan selalu jadi bagian dari mereka yang mengingkari kebenaran maka melanggar keadilan. Dua-duanya busuk dua-duanya sumber keonaran di bumi ini….”, dan ia teruskan nasihatnya tentang kebenaran dan keadilan dari kedudukanya di tengah-tengah masyarakat dan para dewa.

Nilai moral yang termuat dalam kutipan tersebut adalah mengenai ketakutan untuk membela kebenaran, sehingga hal tersebut akan sama saja dengan melanggar kejahatan, sebab sama-sama melanggar keadilan.

5. Nilai Sosial

Nilai sosial adalah nilai yang termuat dalam teks cerita sejarah dan berkaitan dengan tata pergaulan antar individu dalam kehidupan masyarakat.

Contoh kutipan teks cerita sejarah yang memuat nilai sosial:

Sebagian terbesar pengantar sumbangan pria, wanita, tua, dan muda menolak disuruh pulang. Merek bermaksud mengantarkan sumbangan juga. Maka jadilah dapur raksasa malam itu juga…

Nilai sosial yang termuat dalam kutipan tersebut adalah kesediaan masyarakat untuk menyumbangkan tenaganya dan membantu apa saja yang sekiranya diperlukan dalam kegiatan masyarakat tersebut.

Contoh Teks Cerita Sejarah Beserta Pembagian Strukturnya

Struktur Teks Kalimat dalam Teks Cerita Sejarah
Orientasi Wayang adalah seni pertunjukkan asli Indonesia yang berkembang pesat khususnya di Pulau Jawa dan Bali. Pertunjukan ini juga populer di beberapa daerah seperti Sumatera dan Semenanjung Malaya juga memiliki beberapa budaya wayang yang terpengaruh oleh kebudayaan Jawa dan Hindu.

UNESCO, lembaga yang membawahi kebudayaan dari PBB, pada 7 November 2003 menetapkan wayang sebagai pertunjukkan bayangan boneka tersohor dari Indonesia, sebuah warisan mahakarya dunia yang tak ternilai dalam seni bertutur (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity).

Insiden atau Urutan Kejadian 1 Catatan sejarah pertama tentang adanya pertunjukkan wayang mengacu pada sebuah prasasti yang bisa dilacak berasal dari tahun 930, yang mengatakan “si Galigi mawayang.” Saat itulah sampai sekarang, beberapa fitur teater boneka tradisional tetap ada. Galigi merupakan seorang penampil yang sering dimintai untuk menggelar pertunjukkan ketika ada acara atau upacara penting. Pada saat itu, ia biasanya membawakan sebuah cerita tentang Bima, seorang ksatria dari kisah Mahabharata. Penampilan yang dibawakan oleh Galigi tercatat dalam kakawin Arjunawiwaha yang dibuat oleh Mpu Kanwa pada tahun 1035 yang mendiskripsikannya sebagai seorang yang cepat, dan hanya berjarak satu wayang dari Jagatkarana. Kata Jagatkarana merupakan sebuah ungkapan untuk membandingkan kehidupan nyata kita dengan dunia perwayangan, dimana Jagatkarana yang berarti penggerak dunia atau dalang terbesar hanyalah berjarak satu layar dari kita.
Insiden atau Urutan Kejadian 2 Dalam sejarah asal usul kesenian wayang kulit, wayang kulit sendiri terbagi menjadi beberapa jenis dan satu di antaranya adalah wayang kulit Gagrag Banyumasan. Untuk wayang kulit jenis ini adalah sebuah gaya pedalangan yang juga dikenal dengan nama pakeliran. Contoh lain dari pembagian jenis wayang kulit lainnya wayang kulit Banjar, yang sesuai namanya berkembang di Banjar, Kalimantan Selatan. Masyarakat kerajaan Banjar awalnya memang telah mengenal seni wayang kulit ini dimulai dari awal abad ke-14. Pernyataan ini menjadi jauh lebih kuat ketika Majapahit akhirnya berhasil menduduki beberapa bagian wilayah Kalimantan dan membawa misi untuk menyebarkan agama Hindu menggunakan taktik untuk mengadakan pertunjukan wayang kulit
Insiden atau Urutan Kejadian 3 Contoh lain lagi ialah wayang siam yang terkenal di Kelantan, Malaysia. Wayang Siam sendiri merupakan sebuah pertunjukkan wayang one man show, dimana bahasa-bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu. Dari awal, tidak ada bukti yang jelas tentang kemunculan pertama wayang siam, jadi orang-orang berpendapat bahwa kesenian ini berasal dari jawa, mengikut simbol-simbol yang sangat bercorak Jawa.
Reorientasi Di masa sekarang ini, ketertarikan anak muda akan kesenian wayang kulit bisa dinilai sangat rendah, mengingat banyaknya permainan berbasis teknologi yang bisa mereka mainkan. Meski begitu, masih banyak juga orang tua yang dengan aktif mengajarkan anaknya untuk mengapresiasi salah satu karya seni tradisional Indonesia ini, dan hal tersebutlah yang dibutuhkan untuk memajukan wayang kulit di masa ini.

Nah, itulah penjelasan mengenai struktur teks cerita sejarah beserta contohnya. Secara tidak langsung, teks cerita sejarah ini mengajarkan kepada kita mengenai sejarah dengan cara yang lebih ringkas.

Rekomendasi Buku & Artikel Terkait

Sumber:

Artanto, Dedi. Modul Bahasa Indonesia: Informasi Teks Cerita Sejarah Kelas XII. 2021

https://www.academia.edu/

Baca Juga!

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien